#Diary : Sehari Bersama Bapak




Jika kamu memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia, maka bersyukurlah...



Jika kamu merindukan seseorang yang sudah lama kau rindukan, jangan sampai hilang kesempatan untuk habiskan waktu bersamanya... #MorningQuotes.

Setiap kali melihat seorang anak perempuan yang bisa tersenyum bahagia bersama bapaknya, disitu kadang saya merasa iri. Karena tidak setiap hari dan setiap menit, saya tidak bisa menghabiskan waktu bersamaan dengan bapak.

Sejak kecil saya sudah jauh dari beliau yang merantau di ujung timur Indonesia. Ketika mendapat kesempatan untuk bertemu dengan beliau, rasanya air mata ini tak mampu terbendung. Pelukannya begitu hangat, meskipun tidak ada sepatah kata ucap. "jangan menangis, nak!".

Dua minggu lalu, bapak pulang ke Solo. Saya merasa sangat senang dan juga sedih. Senang bisa bertemu sebentar, dan sedih ketika harus ditinggal merantau lagi. Ketika ada kesempatan untuk bertemu dengan beliau meski itu sehari, maka saya akan pergi menyusul beliau.

Jadi ingat seseorang pernah berkata, "lebih baik pergi menyesal, daripada menyesal karena tidak pergi".

Hari Senin yang mendung, sekitar pukul 7 pagi, saya sudah sampai di Terminal Tirtonadi, Solo. Sambil menunggu jemputan, saya pergi jalan - jalan lebih dulu Dari Terminal ke Sriwedari. Lanjut ke Pusat Grosir Solo (untuk beli es teh) dan kembali lagi ke Terminal. Sebenarnya saya berniat cari sarapan, tapi malah gagal sarapan. Yasudahlah.

Saat menjelang dhuhur, handphone berdering. Bapak menelepon. Ternyata beliau sudah sampai di terminal. Selepas dhuhur akhirnya bisa bertemu dengan Bapak dan pergi makan siang bersama di Warung Mie Ayam yang letaknya tak jauh dari Terminal.

Hujan seketika turun, sepertinya Goblin tahu kalau saya sedang sedih. Masih kangen bapak, tapi ketemu cuma bentar. Yasudahlah. hahahaha.

Sepulang dari tanah suci, bapak terlihat berbeda. Seperti bapak haji. Ya memang beliau sudah haji. Tapi beliau masih tetap sama. Bapak yang saya kenal, senyumnya yang hangat juga pesan - pesan untuk putri bungsunya. Sebelum akhirnya berpisah. Dan bapak pergi merantau lagi.

"Sekarang sudah waktunya memikirkan masa depan, nak!" begitu pesan bapak.

Sampai hari ini, saya terus teringat pesan bapak. Beliau ingin anaknya cepat lulus dan dapat pekerjaan yang lebih baik.

Saya tidak bisa berjanji bisa cepat lulus, kalau kadang masih harus memikirkan rumah, masih memikirkan juga bagaimana bisa dapat uang tambahan agar bisa punya tabungan sampai waktu wisuda tiba. Saya akan berusaha.






Komentar

Postingan populer dari blog ini